PENGETAHUAN TARI GANDRUNG LOMBOK
TARI GANDRUNG LOMBOK
![]() |
| Penari Tari Gandrung Lombok |
Tari Gandrung Lombok hanya dapat dijumpai di desa-desa tertentu dipulau lombok. Desa terbebut adalah desa Lenek, desa Suwangi, keduanya di Lombok Timur dan Desa Dasan Tereng di Kecamatan Narmada, kabupaten Lombok Barat.
Lombok adalah salah satu pulau di kepulauan Sunda Kecil (dahulu) dan sekarang merupakan salah satu pulau di Provinsi Nusa Tenggara Barat, dibatasi oleh Pulau Bali di bagian barat dan pulau Sumbawa di bagian timur. Di utara terdapat Laut Jawa dan di selatan Lautan Indonesia.
SEJARAH TARI GANDRUNG LOMBOK
Tari Gandrung memang berasal dari Banyuwangi (Jawa Timur) berkembang di Lombok melalui Bali, pada masa Bali dan Lombok Barat (Karangasem) merupakan kesatuan daerah kultural. Sebenarnya, tatkala dulu Gandrung masih ditarikan oleh penari laki-laki, di Pulau Bali sudah populer dan tari-tari itu di Bali disebut juga Gandrung ini menjelaskan bahwa betapa Tari gandrung yang datang dari Banyuwangi begitu populer di Bali dan namanya tetap dipertahankan, yaitu Tari Gandrung.
![]() |
| Penari dengan Gerak Kapat |
Bentuk tari Gandrung di Lombok diperkirakan sebagai suatu bentuk Tari Gandrung di Lombok diperkirakan sebagai suatu adaptasi dari model Banyuwangi (Jawa Timur) yang pengembangannya lewat Bali, tetapi pada tahap berikutnya menyerap pula bentuk-bentuk/karakter lokal (setempat).
PERKEMBANGAN/PENYEBARAN TARI GANDRUNG dimulai sejak I Gusti Putu Geria memperkenalkan tari tesebut di Mataram, ketika ia menjadi Pepatih. Pada mulanya penari Gandrung memang laki-laki, tetapi atas usaha I Gde Ketur tradisi tersebut di dobrak. Beberapa orang teman dekatnya sendiri juga menyetujui usaha I Gde Ketur tersebut, tetapi untuk mencari wanita yang bersedia menjadi penari Gandrung sangat sukar apalagi wanita Bali. Tetapi akhirnya I Gde Ketur menemukan seorang wanita Sasak yang bernama Tinggen, yang bersedia menjadi penari Gandrung. Semenjak itu Tari Gandrung ini terus berkembang dan semakin meluas bahkan digandrungi masyarakat pada jaman itu.
![]() |
| Penari Gandrung |
Musik yang dipakai pada Tari Gandrung Lombok ini adalah Gamelan Oncer yang merupakan ensambel tradisional yang utama dan bersama-sama dengan lima ensambel tradisional lainnya selalu dipergunakan oleh mereka yang menganut paham sinkretisme. Kelima ensamble tradisional tersebut adalah, ensambel untuk watang, Gamelan Klentang, Gamelan Grantang, Gamelan Tawag-Tawag dan Gamelan Gong Sasak sendiri yang diperkirakan "Lahir" kemudian merupakan perpaduan antara Gamelan Oncer dan Gong Kebyar Bali
![]() |
| Barungan Gamelan Gandrung Desa Suwangi |
Peralatan/ensambel gamelan yang dipakai sekarang adalah pemugeh, saron, kantil, calung, jegogan, suling biasa, pereret dan rincik. sedangkan peralatan yang dipakai dulu adalah ensambel gamelan yang terdirindari, cungklik, gender/calung, gong, gendang, petuk, rincik, pereret, suling biasa dan ketipluk.
![]() |
| Barungan Gamelan Gandrung Desa Dasan Tereng |
![]() |
| Barungan Gamelan Gandrung Desa Lenek (memakai cungklik dan suling belo) |
ARTI TARI GANDRUNG, beberapa orang yang ditanya tentang arti kata gandrung pada umumnya mengembalikannya pada "adanya rasa cinta, rindu, suka pada seseorang". Juga dalam bahasa Sasak, kata gandrung mempunyai arti yang sama dengan arti diatas.
![]() |
| Tari Gandrung Lombok |
Dalam Kamus Besar bahasa Indonesia, Depdikbud, Balai Pustaka, Jakarta, 1988, 252: Gandrung mempunyai arti sangat rindu (kasih) akan, tergila-gila karena asmara, sangat ingin (mendambakan), sedangkan Menggandrungi mempunyai arti sangat mencintai, tergila-gila pada, sangat menyenangkan, sangat senang akan, menaruh perhatian besar pada, dan Menggandrungkan mempunyai arti merindukan. Jadi pada hakekatnya kata gandrung mengandung makna' cinta kasih
FUNGSI TARI GANDRUNG, dalam sejarah Tari Gandrung dari negeri asalnya (Banyuwangi) kita ketahui bahwa tari ini pernah dipakai sebagai media yang dimanfaatkan sebagai media yang dimanfaatkan sebagai sarana perjuangan (melawan penjajah). Terutama yang tertuang dalam babak ketiga yang disebut seblang-seblang dimana terdapat lima puisi yang harus dinyanyikan dengan judulnya masing-masing. Media perjuangannya tersalurkan atau divisualisaikan lewat Lagu-lagu yang bersifat tersirat (konotatif) juga dibawakan banyak bernapaskan Islam, nasihat-nasihat keagamaan atau pantun-pantun yang memadati gending-gending mempunyai nilai tersendiri yang bersifat membangun, serta secara visualisai lewat babak terakhir/ketiga. (Bandingkan dengan babak-babak pada Gandrung Lombok : Bapangan, Penepekan dan Pengibingan ).
Tetapi ternyata fungsi yang awal tersebut sudah bergeser sama sekali dan hanya tinggal kenangan pada orang-orang tua saja. Fungsinya yang sekarang adalah sekedar untuk ikut memeriahkan suatu pesta atau selamatan/hajad seseorang. Baik berupa pesta perkawinan, Khitanan atau daur hidup laiinya dan dengan demikian Gandrung sedikit demi sedikit bukan lagi milik masyarakat tetapi milik suatu organisasi.
Di negeri asalnya, tari ini pada suatu masa menjadi kebencian masyarakat dan dikutuk serta tidak boleh ditanggap. Pasalnya, pada masa itu sang primadona Gandrung lanang melakukan perbuatan melanggar susila, merusak moral serta terlarang dalam agama, yaitu sebagai menyebarkan penyakit homo seks, atau telah berubah menjadi bulan-bulanan kaum lelaki yang mencintai kaum sejenisnya untuk melampiaskan nafsu seksnya. Untuk memikat mangsanya, sampai-sampai Gandrung lanang itu mempergunakan ilmu santetnya. Citra Gandrung memang runtuh sekali. Dan baru bisa dibangun citranya yang baik dengan memakan waktu yang cukup lama dengan penuh kesabaran,hingga akhirnya sekarang ditarikan dengan penari perempuan dan pada saat ini tarian tersebut dipakai sebagai hiburan ditanggap dalam berbagai kesempatan dalam pesta perkawinan, khitanan, ruwatan, hamil tujuh bulan pertama, ngurisan, kaulan, mengisi malam-malam hiburan pada perayaan hari-hari besar nasional dan lain-lain.







Komentar
Posting Komentar